Showing posts with label Chronicle. Show all posts
Showing posts with label Chronicle. Show all posts

8.01.2008

Experiences....

It feels strange to restart writing in this blog again, but suddenly I just wanted to. So, I decided, just do it.

I had interesting experiences today. I'll spill out two of those.

First, it's about senior high school students. This morning I met a group of students walking while I was going to campuss. One of them used crutches. I was wondering, he got sprained. Suddenly, three boys arrived with two motorcycles. Those three was their friend. What a surprise, they three stopped and with no hesitation asked the one who got sprained to ride behind on one motorcycle. The other students helped him to ride on. For me, it was moved.

Secondly, it's about trust I had. After Isya', I was greeted by a friend whom I haven't met for long time. I was surprised that suddenly he asked me to help him distributing food for the poor. He wanted redeem his broken-promise by doing that. I was happy that he could trust me: spilled out about promise he broke and asked me out to help him.

Those two, beside other experiences, make my day was great. Thanks God.

11.15.2007

Birthday Present

I can count how many times I received birthday present. Thrice. Well, it’s natural since I hardly tell my birthday to other. Usually, I just write it down for fulfilling forms or files.

This afternoon I received birthday present from a friend. Adenita, she gave me such wonderful gift. I was touched. Not only had I rarely got attention as well, but actually I really got fine thing. It's three booklets on surah of Al-Qurán: Luqman, Ar-Rohman, Al-Waqiáh. And the best part of all; I have such a wonderful best friend.

11.03.2007

Shobar (Patience)

Friday (19/10), as the common of Muslim men, I went to do Sholat Jumát at Islamic Center in Cakranegara. That day actually was not the fun time to go out for distance to attend Sholat Jumát. Since my little brother, Firman, insisted to go there then we and Dad went there.

Sholat Jumát there was a good choice, actually. Khutbah (sermon) I heard was so impressive. It was given by Ustadz Fatah. The khutbah as if turned down the heat of that day. He talked about Shobar (patience).

I concluded the khutbah:
Shobar, in addition to sholat, are consolations for a Muslim. So, it’s important to understand both of those. Shobar consist by two components, those are shobar itself and syukur (gratefulness). And, it is not easy to get a predicate as ash-shobirin (person who has patience). There’s so many people look patience but they are not. Someone can be said as ash-shobirin if he is able to be patience for three things: be patience for the obligation, for prohibition that Allah plots on him, and be patience for the fate that Allah plots on him.

Reflecting on the khutbah, I feel still far from shobar characteristic. O Allah, please favor me Thy guidance….

11.02.2007

Bima dan Kearifannya (Bimanese Wisdom)

Saya menyempatkan diri untuk pulang ke Bima pada libur lebaran lalu. Sehari setelah lebaran, saya berangkat ke bima bersama bunda dengan menggunakan bus. Perjalanan tersebut memakan waktu nyaris 14 jam.

Di Bima inilah saya kembali bersahabat dengan akar saya. Inilah daerah yang menjadi tanah kelahiran keduaorangtua saya. Saya merasa nyaman di sana walaupun udara terik yang membakar. Bima memang tidak sesubur Lombok, tempat rumah kami berada.

Daerah yang panas mungkin telah menciptakan orang bima sebagai manusia berkarakter keras. Akan tetapi kearifan mereka juga mengagumkan. Tulisan ini bukan bermaksud memuji suku sendiri sebab saya sendiri percaya bahwa bumi Indonesia ini penuh dengan berjuta kearifan-kearifan yang mengagumkan. Dan saya melihat satu bagian kecil dari harta bangsa ini di akar saya.

Kasus pertama

Saudara sepupu merayakan resepsi pernikahannya. Pagi-pagi saya datang ke tempat acara akan diadakan. Wow, kesibukan luar biasa ada di sana. Yang saya herankan adalah undangan buat acara nanti sore ternyata baru akan disebar menjelang siang. Undanganpun sangat sederhana, yaitu dengan kertas HVS A4 berwarna kuning yang difotokopi. Saya sempat sangsi bahwa acara akan ramai, namun ternyata dugaan itu meleset.

Terlepas bahwa, ini adalah acara yang dilaksanakan di sebuah desa kecil, saya katakana ini luar biasa. Entah waktu yang berjalan lambat di sini atau memang setiap orang merasa terpanggil untuk memeriahkan acara sehingga dfemikian banyak yang hadir. Bahkan undanganpun hanya formalitas, karena semua sudah berkontribusi sejak awal dalam acara tersebut.

Acaranya sendiri di adakan di tempat yang agak aneh: di atas sawah kering. Tetapi ini unik sekali karena pelaminan dilatari oleh kebun bambu, sementara di hadapan pelaminan sawah membentang luas sejauh mata memandang dan terlihat tegar gunung-gunung seolah menjadi batas antara bumi dan langit. Ternyata tidak perlu gedung yang hebat untuk membuat acara yang indah semacam ini.

Kasus Kedua

Saudara sepupu dua tingkat menikah. Pernikahan ini bertempat di kabupaten sebelah, Dompu. Bayangkan hamper satu desa pergi ke sana dengan menyewa empat buah bis. Saya sendiri pergi memakai motor bersama Paman. Kami bergantian membawa motor. Perjalanan menuju kabupaten Dompu, buat saya, bukan perjalanan mudah. Jalannya berkelo-kelok karena mengikuti kontur bukit dan lembah. Saya melewati hutan, tanah kosong, sawah, dan jurang. Saya harus berhati-hati sekali membawa motor karena tidak terbiasa dengan medannya. Apalagi jalur itu biasanya dilewati bus-bus antar kota.

Saya merasa kagum dengan semangat persaudaraan yang begitu kental sehingga hamper semua orang ingi datang ke pernikahan sepupu saya itu. Perjalanan yang sulit ditambah berdesakan bukan perkara yang menyenangkan. Kapasitas tiap bus jauh terlewati. Sebenarnya ini sangat berbahaya. Mudah-mudahan spirit kebersamaan itu bisa terjaga, namun dengan cara yang lebih aman. Menurut saya, tidak benar juga sesuatu yang baik ditempuh dengan cara yang berbahaya atau melanggar kaidah, hehehe…

Kasus Ketiga

Saya memperhatikan bahwa kebiasaan memanggil orang lain dengan sebutan sebagai anggota keluarga masih bertahan di sana, bahkan walaupun orang yang diajak berbicara sama sekali tidak dikenal. “Wahai ananda,” atau “wahai adinda,” atau wahai bibinda,” atau yang sejenisnya kerap terdengar di telinga saya (yang bertanda kutip terjemahannya saja, sapaan yang asli tentu memakai bahasa Bima)

Kasus Keempat

Ngobrol asyik pun kerap terjadi antara orang yang sama sekali tidak dikenal. Seseorang dengan tiba-tiba bisa nimbrung dalam sebuah pembicaraan untuk memberikan pandangannya. Ini terjadi di kendaraan-kendaraan umum, toko-toko, atau pasar, sawah, atau tempat lainnya. Keramahan yang indah.

Bahkan suatu ketika ketika saya kemalaman dalam perjalanan menuju Bima, beberapa tahun yang lalu, saya diantar dengan selamat oleh seorang pemuda yang tidak saya kenal sama sekali sebelumnya. Ah saya merasa beruntung bisa menjadi orang Bima.

Mudik (Went Home)

Going home is fun, as always. There the place that my life’s begun. There the place that the first pieces of me pierced to construct currently me. Back to home always touchy. And I felt it when I spent my Lebaran holiday several weeks ago (7-23/10).

I arrived by flight from Jakarta. At home, I hugged my mother in a straight line. She looked so happy. However, her faced changed surprised when she’d known that I had metacarpal fracture. Ah…, she always be the first one that’s concerned about me most. Maybe that the reason I postponed to tell her about my accident.

I met my father in the afternoon. He’d just arrived from Manado. He showed similar surprised as Mom did. However I could make them sure that I was okay. I little bit felt guilty for my accident.

For two days, I completely did nothing. I was prohibited to do things because of my hand condition. I feel sad as my mom did the whole household things and I just could see. Finally, my little brother and little sister came the next two days. They went home by flight from Surabaya. It meant that there were people who’d help mom.

For several next days, there was a lot story that we shared between us: Dad, Mom, I, my brother, and sister. How they really love me, I could feel it. There were nice meeting with my friends. Our classic story never gets old to be told again and again. There was a beauty of wisdom of earlier period of Bimanese people: I will type it down later.

Going home always becomes a great moment for me. At that place I can contemplate myself deeply.

10.31.2007

Metacarpal Fracture

Ow… it’s been long time not to type down here. Hmmm, many experiences happened and those might be forgotten to be remembered. Since I had my metacarpal fracture, I was going averse to post here. Let me start with the accident first.

That night (30/9) was a lucky night. At that night I got an accident: metacarpal fracture. I was invited to join futsal game by my friends. I accepted it. Moreover, there was a plan to surprise two people of us who celebrated their birthday.

We arrived at the location, and played such fun game. However, then, when I was dribbling the ball suddenly there were two large body attacked me. I was flung to the wall. I felt pain in my hand. I thought I got sprained. When I went away the game, I realize that the anatomy of my right hand changed. My ring finger looked as it sunken. My friends give several treatments as first aid.

The next day, I took my Rontgen photograph and I found that I got fracture at metacarpal. Then I went to a doctor to take next treatment. The accident forced me to go home on Lebaran holiday in condition my hand bandaged.

By the way, metacarpals are the continuous of phalanges. And I said that’s a kind of luck; since I don’t know was the accident a gift or calamities. It’s better to be positive thinking, right?

9.29.2007

Anger and my Romadhon

Okay, time to write… (again!)

This fasting month is really special for me. It becomes special not because significant changing on praying, though even decrement that I feel. How sad… :(

The reason why this romadhon is so special is the time for me to reflect myself. I have been tested through my passion since so many thing I feel so wrong. And even worse, those come from my environment, my friend. I have been mad. Not to them, but myself. I mad because I cannot do anything to make it right.

Let me tell several stories that amend my mood to the bottom…


  • On a meeting, suddenly, my friend asked the aim of our event since her did know nothing about it. She asked why we just talked about technical not the conception. God, I almost blasted into mad. I think her questions didn’t make sense. It’s natural she didn’t know after she had not even got involve with us several time before. She among us, but what she did just playing around, talked around, or laughing around. She didn’t ask, even. Thank God, people there patient enough to explain her.

  • Several friends in our discussion kept shouting dirty jokes, ghibah, and laughing at people. I don’t understand, how come this habit even worse in this time. Time that we should be doing something best (it’s romadhon, right?). And I exploded; I got mad and told to them. I hope they can accept my words and change.

  • One of my friends broke his promise. Bad, he didn’t ask apologize and even make excuses.

Ah, how hard this romadhon. But several experiences I had just enrich me about life. I can reflect myself from someone else’s attitude.
You cannot give something if you don’t have it.
When you get mad at someone, it may tell you are just alike him.

9.15.2007

Rileks' Gathering (in Fasting Month)

It was great today. I and other Rileks members spent this afternoon by gathering (silaturrahmi) along with break the day third of fasting Romadhon. Something that has to be noted, this event happened by solid team that worked several time before the day.

The idea of this gathering appeared three weeks before fasting month between me, Riesa (rie~star), Muthe (parz), Danze (danze), Bhas (Mr. Bhass), Dita (bajajpinky), and Eddy (eddy). We thought that it’s necessary to gathered again and Romadhon is the best moment to make it true. Days later, it’s decided Dita to lead this event and I as treasurer. Three weeks we worked: collect money, order the meals and drinks, arrange the rundown, etc. Thanks God, each people contributed well.

And, amazingly, the participants of this event just exceeded my expectation. More than 80 people came by and embellished the divine afternoon, even though several people canceled their coming. The atmosphere felt warm between us. Several members told their trace of this gathering. Someone said Rileks is his new family. Another one spoke Rileks is place that he could really relax. It’s great, wasn’t it?

My God, it is a great grateful to you for exceptional afternoon we spent today and hope You always lead us to straight path.

SIAWARE 12

For the feeling called love, I was there for you
For the lust of lessons, I’d decided to take part

And…,
I’ve seen incredible extraordinary people

You all burnt my spirit to give
Better than my best
Since I saw
Bright reflection within myself
By your verbal, whim, and expression

Though we’d just met
Though for a flash flicker
I felt knowing you for eons

You’ve been coming
To complete my journey of being
For that whole things
Thank you…

,iiii

[Dedicated to 97 members and facilitators team of SIAWARE 12]

9.13.2007

Kepri Photographs

The wind of the sea caressed the face


Welcome to Penyengat Island


Masjid Raya Sultan Riau, Penyengat Island


Khusyu'


Entering Balai Adat Melayu Indera Perkasa, Penyngat Island


Budha Statue, Senggarang Island


Budha Statue, Senggarang Island


Delicious


Balerang Bridge


Body Tree (Suicide Place of Vietnamese Refugees), Galang Island


Monument of Refugee's Ship, Galang Island

9.12.2007

Fasilitator Batam (Facilitator in Batam)

For this, still, I prefer to write in Bahasa Indonesia.

Pengalaman menjadi fasilitator di Batam adalah sebuah anugerah. Saya menghadapi sebuah momen di mana saya mesti mengendalikan diri sendiri. Mengendalikan diri? Tentu saja dan ini sungguh luar biasa karena melibatkan emosi manusia nyaris empat ratus orang. Dan untuk kesekiankalinya saya belajar tentang hidup.

Saya seolah-olah bercermin dengan segala hal yang ditampilkan peserta. Totalitas sekaligus penolakan merupakan sesuatu yang saya lihat dari wajah-wajah peserta, dan sungguh fase-fase itu juga pernah saya alami. Menjadi kontributor sekaligus pembangkang merupakan warna yang saya lihat dalam ruangan training, dan sungguh itu juga adalah bagian dari lembaran hidup saya. Dalam rupa ragam tingkah yang ditampilakan, saya senatiasa belajar tentang diri saya sendiri.

Terkadang saya merasa lucu dan juga malu. Bahwasanya saya telah menjalani training serupa dua tahun yang lalu. Pun beberapa kali saya telah menjadi fasilitator. Banyak yang berubah, namun sungguh masih lebih banyak yang harus dibenahi dalam diri. Saya sungguh bersyukur bahwa sahabat-sahabat baru yang saya temui di Poltek Batam ini telah mengajarkan saya untuk memenuhi kontrak saya. Mereka bukan sekedar sahabat. Mereka guru. Terimakasih.

Tandang ke Kepri (Went to Kepri)

Rushing months. It is long time not to write since the last time I posted here. So many experiences about events, journeys, people uproar within my mind. It’s about time dragged me to write nothing. This is it, I am writing now. However, I’d like to write in Bahasa Indonesia for this time being.

Baiklah, untuk bagian pertama, saya akan menuliskan pengalaman saya bertandang ke Kepulauan Riau beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sungguh menarik karena saya melihat suatu keragaman yang begitu mengagumkan dari pulau-pulau yang saya kunjungi.

Pada bulan Mei yang lalu saya ditawari oleh Ibu Linda untuk menjadi fasilitator dalam training yang ditanganinya untuk mahasiswa Poltek Batam. Saya menerima tawaran itu sehingga di akhir Agustus saya terbang menuju Batam. Awalnya, pada tanggal 27 Agustus saya berangkat ke Jakarta bersama fasilitator yang lain: Chendy, Andik, dan Wibi. Kami menginap satu malam di tempat Ibu Linda dan ternyata sudah ada Mas Enang di sana yang juga akan menjadi fasilitator dalam training tersebut. Keesokan paginya bergabung dengan fasilitator lain (Dodi, Mbak Yayuk, dan Mbak Erni) di Bandara Soekarno-Hatta. Sekitar pk. 7.30 kami diangkut AirAsia menuju Batam.

Pertama kali menginjak Batam, saya mendapat kesan bahwa pulau ini cukup subur walaupun panas. Akan tetapi, dugaan saya sama sekali salah sebab di luar Bandara Hang nadim saya melihat kondisi bentang alam Batam yang sesungguhnya. Tanah batam tidak dapat dikatakan subur, berwarna merah dan cenderung bercadas. Ketika hujan, terlihat jelas bagaimana air sangat sulit menyusup ke dalam tanah. Udara pantai yang panas dan asin teraromai sangat kuat. Kondisi seperti ini mengingatkan saya akan tanah kelahiran di Nusa Tenggara Barat yang juga berudara pantai.

Satu hal yang saya lihat dari Batam adalah pembangunan fisik yang terlihat sangat masif di setiap sisi pulau ini. Tampaknya ini konsekuensi dari statusnya sebagai daerah kawasan industry yang secara geografis sangat dekat dengan Singapura. Pembangunan yang cukup pesat dan janji hidup yang lebih baik di sana telah mendorong orang-orang datang ke pulau ini. Saya cukup terkejut mendapati bahwa suasana Melayu di daerah ini nyaris tidak ada. Pluralitas telah menjadi warna di sana. Orang pertama yang saya temui justru berdialek Jawa Tengah yang kental. Beberapa yang saya temui juga berlogat yang bukan Melayu. Ada yang Jawa, Palembang, Batak atau Padang.

Sehari kemudian setelah tiba di Batam, kami disibukkan oleh training selama dua hari (29-30/8) yang cukup menguras energi namun sangat menyenangkan. Cerita tentang training ini akan saya ceritakan dalam kesempatan lain saja. Yang pasti dari training itu saya melihat betapa daerah ini telah mendidik manusianya menjadi pejuang lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Pasca training (31/8), saya dan tim fasilitator yang saya sebut tadi mengadakan perjalanan ke pulau-pulau di sekitar Batam. Dari yang saya sebut sebelumnya ada tambahan orang dalam perjalanan kami ini, yaitu Bang Lendi, Kak Ira, Putri, Pak Arief, Mbak XXX (lupa namaya :-P), dan Yoli. Pulau pertama yang kami tandangi adalah Bintan dimana ibukota Kepri, Tanjung Pinang, berada di pulau ini.

Tanjung Pinang memberi gambaran awal yang cukup menarik tentang budaya Melayu. Kebetulan hari itu adalah hari Jumát. Saya melihat pria-pria yang bergegas menuju masjid dengan tampilah yang sangat berbeda dengan yang saya temui di tempat lain. Mereka memakai pakaian tradisioanal (baju dan celana) berwarna cerah seperti kuning dan merah muda. Sarung khas dipakai hanya menutupi hingga sebatas lutut. Saya senang sekali melihat pemandangan ini. Tapi yang berkesan dari kunjungan ini sebenarnya adalah menikmati kuliner di sini. Untuk pertama kalinya saya merasakan makanan yang bernama mi lender. Ini adalah mi telor dengan siraman kuah tertentu berwarna coklat yang sepertinya dengan bahan dasar kacang. (Agak lupa pastinya.) Sorenya (setelah berkunjung ke Pulau Penyengat dan Senggarang) kami menikmati makanan laut di daerah Batu Licin. Tempatnya sangat jauh tapi citarasa yang disajikan membuat semua kesulitan yang terasa untuk mencapai daerah ini terobati. Kepiting-kepiting yang disajikan besar-besar, udang goring tepungnya juga nikmat.

Suasana Melayu lebih kental terasa di Pulau Penyengat. Dari segi arsitektur kita bisa menyaksikan masjid bersejarah peninggalan Kerajaan Melayu. Masjid tersebut konon dilapisi kulit telur pada bagian kubah sehingga seringkali dinamakan masjid telur. Warnanya yang kuning cerah sangat menarik mata. Ada cerita bahwa barang siapa yang berdoa dengan khusyu’ di masjid ini dia boleh jadi didatangi oleh Orang Bunian yang akan menjawab pertanyaan orang tersebut setelah selesai berdoa/sholat di sana. Orang Bunian adalah penduduk asli pulau tersebut. Saya sendiri tidak terpengaruh dengan cerita-cerita semacam itu. Pokoknya sholat yang khusyu’ saja sembari menikmati keindahan arsitektur masjid tersebut. Satu hal lagi yang menarik adalah terdapatnya mushaf Al-Qurán dari abad pertengahan yang bergaya Turki. Mushaf al-Qurán ini meniadakan sejumlah tanda baca di dalamnya demi setiap orang punya penafsiran sendiri tentan apa yang dibacanya dalam gaya penulisan semacam itu. Terlepas dari benar tidaknya, tetap saja kitab tersebut adalah asset yang berharga. Sayang sekali bagian dalam masjid dan mushaf itu tidak boleh difoto.

Sholat Jumát yang saya lakukan di tempat ini memberi saya pengalaman baru. Terdapat beberapa prosesi yang tampaknya dibawa sejak jaman kerajaan dulu. Khutbah dilakukan oleh khatib dengan memegang suatu tongkat logam (mungkin dari kuningan). Di sini khatib tidak otomatis sebagai imam Sholat Jumát. Perempuan dijinkan juga untuk ikut sholat Jumát. Tempat perempuan adalah semacam panggung berkerangka.

Perjalanan di penyengat dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah situs sejarah seperti makam-makam raja yang dimakamkan di Pulau Penyengat. Di salah satu situs makam terpahat ‘Gurindam Duabelas’ yang asli. Kekayaan sastra Melayu memang luar biasa.

Kami juga berkunjung ke balai adat yang menghadap pantai. Di bawah bangunan yang berbentuk panggung itu ada sebuah sumur yang airnya sangat segar dan tidak payau sama sekali. Ini agak mengherankan mengingat bahwa jarak sumur dan pantai hanya sekitar seratus meter.

Dari Penyengat kami bertolak ke Senggarang. Pulau ini punya atmosfer yang beda karena suasana oriental begitu kental di sini. Dua klenteng Cina menyambut kami begitu berlabuh di pulau tersebut. Di sisi klenteng ada kolam ikan dengan patung Dewi Kwam Im dan Nacha (betul tidak ya, namanya seperti ini?) yang menjadi satu bagian dengan kolam tersebut. Di dalam klenteng rupanya dipelihara kura-kura. Mitosnya, kalau berdoa kemudian menjatuhkan koin tepat di atas kepala kura-kura tersebut maka doa itu akan terkabul. Ada-ada saja ya….

Tidak jauh dari klenteng-klenteng itu terdapat vihara Budha. Ada patung Budha yang demikian besar dengan tangan-tanganya yang begitu banyak. Suasana ranah Tiongkok yang begitu kental berdampingan dengan budaya Melayu yang masih asli membuat saya berpikir bahwa toleransi di Kepri ini berjalan demikian baik. Di Senggarang ini kami tidak mengobservasi lebih jauh karena mengejar untuk sampai di tanjung pinang sebelum Ashar. Tiba di Tanjung Pinang lagi, kami melaju ke Batu Licin seperti yang saya telah ungkapkan di atas. Menjelang malam kami kembali bertolak ke Batam.

Pagi esoknya (1/9), kami melakukan perjalan menuju Pulau Galang yang terletak 35 km dari Batam. Kami tidak melakukan perjalan lewat laut karena Pulau Batam, Rempang, dan Galang dihubungkan oleh jembatan Barelang. Jembatan ini unik karena salah satunya mirip dengan Golden Gate di California itu. Yang lain berasitektur lengkung yang sebenarnya juga tidak kalah unik.

Pulau Rempang punya kontur tanah yang agak berbeda dengan Batam. Tamapknya pulau ini lebih subur karena tidak lagi saya lihat tanah-tanah merah. Beberapa malah saya lihat agak berawa-rawa. Tidak banyak kesan saya di pulau tersebut karena cuma lewat saja.

Pulau Galang menurut saya adalah yang paling menarik karena tempat ini adalah saksi sejarah perang saudara di Vietnam dahulu. Apa pasal? Tempat ini merupakan tempat pengungsi perang tersebut yang jumlahnya mencapa ratusan ribu orang. Perahu yang mereka gunakan dahulu telah dimonumenkan. Selama nyaris tigapuluh tahun para pengungsi itu hidup di kamp-kamp konsentrasi di pulau ini. Mereka akhirnya dikembalikan ke Vietnam atau menuju negara-negara ketiga yang mau menampung mereka. Ada pula yang memilih bunuh diri karena tidak mau kembali ke negeri asal.

Kata teman yang turut serta dalam perjalanan itu, suasana Galang seram. Akan tetapi, sebaliknya, saya merasa sedih. Hal ini tidak dapat saya jelaskan. Peninggalan-peninggalan orang Vietnam seperti kuil dan gereja tampak tak terurus. Sayang sekali. Pulau itu sepi, dan sepertinya hanya didiami oleh orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga situs-situs sejarah di situ.

Satu hal yang mengharukan bahwa ternyata para pengungsi Vietnam tersebut sangat antusias setiap perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan jauh lebih antusias dari penduduk asli di sana. Saya diceritakan bahwa mereka berpakaian rapi dan mendekor rumah-rumah, sekolah-sekolah, jalan-jalan dengan luar biasa sehingga perayaan kemerdekaan Indonesia justru sangat semarak.

Kekelaman akibta perang terpancar dari wajah-wajah sendu mereka yang saya lihat dari foto. Syukurlah mereka yang akhirnya pergi ke negeri ketiga dikabarkan menjadi sukses. Dan Pulau Galang hanya meningglakan lengang dan cerita-cerita mistis yang menegakkan bulu kuduk. Sayang, sungguh sayang.

Perjalanan ke galan adalah yang terakhir sebelum kami kembali terbang menuju Jakarta. Perjalanan berkeliling pulau-pulau di Kepri sungguh merupakan pengalaaman luar biasa. Mudah-mudahan ada rezeki untuk berkunjung ke daerah-daerah lain di Indonesia. Saya percaya banyak tempat-tempat lain yang tidak kalah luar biasa. Target kunjungan berikutnya: Belitung, Karimunjawa, Raja Ampat.

N.B.: Foto-foto menyusul. Tidak sempat memindahkan nih... :D

Romadhon

Romadhon has arrived. Hope to get the entire best thing in this month.

8.21.2007

Friday's Lesson

Last Friday I did shalat Jumát at Wyata Guna (a base for blind). There was something interesting on sermon (khutbah) that was given there. Generally, khatib meant that everything happen in the world always have points, no matter how terrible they are in human paradigm. Blindness is not deformity. If you said it is, so you judge God’s careless. Then for normal people, there’s nothing to be conceited, since everything can be yang out immediately by His sanction. All you have to do is have some faith to find every hikmah of everything and be grateful.

Took a pray with the blinds was a great experience. I saw how they were so engrossed in pray. Within darkness covers their world I could see how sincere they are with their condition, and even they looked happy. I acknowledged them.

Show us the straight way,
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray. [Al-Fathiha: 6-7]

8.15.2007

Thank You ...

Four days rushing (9-12 August 2007), I spent those to learn a lot about dream, courageous, enthusiasm. And I learnt from youngster, younger than me. SERASI SBM 2007 gave me an extraordinary experience about life. Really, I found that teaching does not relate about age. You who are around 18 at age just have become my master of life. You’re dreamer and so vigorous to reach your dreams. I envied you all. Then I promised to my heart that I would fly high to hug my dream. Thank to you all my new best friends.

I keep touch remember you. And I pray for you to be whatever you want to be: Courageous, Honest, Free, ….

8.09.2007

Earthquake

Cloudy night. I’ve never realized that I would get that kind of experience.

It was around 1.30 am, this day; I replied an email from friend at fourth floor of my Department building. Suddenly, keyboard I used shook. I surprised because all things around me trembled, even my body did. It was an earthquake. Windows echoed intimidating sound. My body shook to right and left.

My friends (there were four people, including me, at that place) kept silent by frightened. I yelled, “Don’t move! Don’t move.” I did not know that was good or not. I wondered which one better: staying at the highest floor of that building or just running ahead to the ground immediately. I just thought that bending moment by this earthquake influenced near ground structure than higher floor structure even though vibration would be felt scarier at higher place. However, that would be inapplicable for very high building case. That was my analysis when that happened.

Honestly, I was afraid. I suddenly remembered the earthquake in Yogyakarta a while ago. Six minute, land vibrated and it caused hundreds of human being died. Remembering that, I just said istighfar. Terrifying. My heart just kept whispering, “How if I die here?”

I guessed it took three minutes. When it stopped, I asked my friend to get out the building immediately. I was afraid if following earthquake would draw closer. Better avoid the risk, I thought. At the outside, my friends were informed by phone call that the earthquake was felt in Jakarta as well. We thought it was severer in Jakarta because people even woke up of their sleep because the vibration.

Hmmm…, I wonder what kind of earthquake was that.

8.01.2007

Finally...

Finally, the darkest age named internet disconnection's over today. Thanks God….

7.25.2007

New Habit = Old Habit

I do my old habit, again! It deserves for miserable consequences. My skin gets darker and on several parts of my body get blemish that cannot disappear for years (as the relic on my body still exist though the last time I did it was a year ago). My reddish Indian skin - I know nobody believe this statement, hahahaha…. - disappears, turn into scaly dark skin. Moreover, my friends have called me Sudanese (you must know Sudan!) and what happens on my skin affirms what they’ve said. It means I must prepare myself because they will say it more freely and unhesitant *sigh*
Guess, what my habit is?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yup, I swim. I do it every week on Tuesday or Wednesday after lunchtime. Weird, huh? Yeah, I know it. But, it is the time I like most because not so crowded.

Ghibah...

I ask to those who love gossiping (ghibah) other. Why?
Mostly, I don’t see points on talk someone’s quality. People do that just for fulfilling self satisfaction even worse: laugh at someone who becomes object of gossiping.
For me, talk about some can be accepted for reflection or learn about life or protection. Moreover, we must choose person whom we ask to talk as the purpose of talking is for goodness. He or she must be fair and wise on his or her opinion. Still, it is difficult to stand on that condition. More often than not, people are slipped on rough way. So, better avoid it.

[I am still sad for my friends who mocked on their friends and lecturers (why?). I don’t know them who were talked about as I from different major. Miserable….]