Showing posts with label Contemplation. Show all posts
Showing posts with label Contemplation. Show all posts

12.15.2007

Today's Inspiration (0712)

THINK & ACT From Henri-Louis Bergson

Think like a man of action, act like a man of thought.

About Henri-Louis Bergson
French philosopher Henri-Louis Bergson, author of such books as Time and Free Will and Creative Evolution, was so popular that when he lectured in New York, it caused the first Broadway-related traffic jam. He was born in Paris in 1859. His wide-ranging philosophical writing covered issues of time and emotion, pragmatism and perception. He served on French diplomatic missions and was instrumental in forming the League of Nations. He died in 1941.

11.04.2007

Today's Inspiration (0711)

THINK From George Jean Nathan

No man can think clearly when his fists are clenched.

About George Jean Nathan
George Jean Nathan, the acerbic American drama critic, was renowned for what he called destructive theater criticism, which helped shape a more serious theatrical community and paved the way for modern critics. He was born in 1882 in Indiana. He and H.L. Mencken coedited the magazines Smart Set and The American Mercury. Although he found little to like in the theater, he became a fierce champion of the playwrights he did appreciate, including Eugene O'Neill and Sean O'Casey. He died in 1958.

short massage service

From my little brother, Firman, I got these messages:

  1. Rasul bersabda, tidak bergeser kaki seorang hamba kelak kecuali bila telah ditanya tentang lima hal. Di antaranya: masa mudanya dihabiskan untuk apa dan tentang dakwah Rasul, bagaimana dia menyambutnya. Kak Ilham ikut kajian donk!
  2. Di surga itu ada bidadari. Bidadari yang paling rendah tingkatannya dapat membuat kita lupa dengan wanita yang tercantik di bumi, dan bidadari yang paling tinggi tingkatannya dapat membuat kita lupa dengan bidadari yang lain. Dialah bidadari bermata jeli.
The messages was sent by him to keep me stand on the right path and back to learn about Islam, as I did. And I speechless....

11.03.2007

Shobar (Patience)

Friday (19/10), as the common of Muslim men, I went to do Sholat Jumát at Islamic Center in Cakranegara. That day actually was not the fun time to go out for distance to attend Sholat Jumát. Since my little brother, Firman, insisted to go there then we and Dad went there.

Sholat Jumát there was a good choice, actually. Khutbah (sermon) I heard was so impressive. It was given by Ustadz Fatah. The khutbah as if turned down the heat of that day. He talked about Shobar (patience).

I concluded the khutbah:
Shobar, in addition to sholat, are consolations for a Muslim. So, it’s important to understand both of those. Shobar consist by two components, those are shobar itself and syukur (gratefulness). And, it is not easy to get a predicate as ash-shobirin (person who has patience). There’s so many people look patience but they are not. Someone can be said as ash-shobirin if he is able to be patience for three things: be patience for the obligation, for prohibition that Allah plots on him, and be patience for the fate that Allah plots on him.

Reflecting on the khutbah, I feel still far from shobar characteristic. O Allah, please favor me Thy guidance….

11.02.2007

Bima dan Kearifannya (Bimanese Wisdom)

Saya menyempatkan diri untuk pulang ke Bima pada libur lebaran lalu. Sehari setelah lebaran, saya berangkat ke bima bersama bunda dengan menggunakan bus. Perjalanan tersebut memakan waktu nyaris 14 jam.

Di Bima inilah saya kembali bersahabat dengan akar saya. Inilah daerah yang menjadi tanah kelahiran keduaorangtua saya. Saya merasa nyaman di sana walaupun udara terik yang membakar. Bima memang tidak sesubur Lombok, tempat rumah kami berada.

Daerah yang panas mungkin telah menciptakan orang bima sebagai manusia berkarakter keras. Akan tetapi kearifan mereka juga mengagumkan. Tulisan ini bukan bermaksud memuji suku sendiri sebab saya sendiri percaya bahwa bumi Indonesia ini penuh dengan berjuta kearifan-kearifan yang mengagumkan. Dan saya melihat satu bagian kecil dari harta bangsa ini di akar saya.

Kasus pertama

Saudara sepupu merayakan resepsi pernikahannya. Pagi-pagi saya datang ke tempat acara akan diadakan. Wow, kesibukan luar biasa ada di sana. Yang saya herankan adalah undangan buat acara nanti sore ternyata baru akan disebar menjelang siang. Undanganpun sangat sederhana, yaitu dengan kertas HVS A4 berwarna kuning yang difotokopi. Saya sempat sangsi bahwa acara akan ramai, namun ternyata dugaan itu meleset.

Terlepas bahwa, ini adalah acara yang dilaksanakan di sebuah desa kecil, saya katakana ini luar biasa. Entah waktu yang berjalan lambat di sini atau memang setiap orang merasa terpanggil untuk memeriahkan acara sehingga dfemikian banyak yang hadir. Bahkan undanganpun hanya formalitas, karena semua sudah berkontribusi sejak awal dalam acara tersebut.

Acaranya sendiri di adakan di tempat yang agak aneh: di atas sawah kering. Tetapi ini unik sekali karena pelaminan dilatari oleh kebun bambu, sementara di hadapan pelaminan sawah membentang luas sejauh mata memandang dan terlihat tegar gunung-gunung seolah menjadi batas antara bumi dan langit. Ternyata tidak perlu gedung yang hebat untuk membuat acara yang indah semacam ini.

Kasus Kedua

Saudara sepupu dua tingkat menikah. Pernikahan ini bertempat di kabupaten sebelah, Dompu. Bayangkan hamper satu desa pergi ke sana dengan menyewa empat buah bis. Saya sendiri pergi memakai motor bersama Paman. Kami bergantian membawa motor. Perjalanan menuju kabupaten Dompu, buat saya, bukan perjalanan mudah. Jalannya berkelo-kelok karena mengikuti kontur bukit dan lembah. Saya melewati hutan, tanah kosong, sawah, dan jurang. Saya harus berhati-hati sekali membawa motor karena tidak terbiasa dengan medannya. Apalagi jalur itu biasanya dilewati bus-bus antar kota.

Saya merasa kagum dengan semangat persaudaraan yang begitu kental sehingga hamper semua orang ingi datang ke pernikahan sepupu saya itu. Perjalanan yang sulit ditambah berdesakan bukan perkara yang menyenangkan. Kapasitas tiap bus jauh terlewati. Sebenarnya ini sangat berbahaya. Mudah-mudahan spirit kebersamaan itu bisa terjaga, namun dengan cara yang lebih aman. Menurut saya, tidak benar juga sesuatu yang baik ditempuh dengan cara yang berbahaya atau melanggar kaidah, hehehe…

Kasus Ketiga

Saya memperhatikan bahwa kebiasaan memanggil orang lain dengan sebutan sebagai anggota keluarga masih bertahan di sana, bahkan walaupun orang yang diajak berbicara sama sekali tidak dikenal. “Wahai ananda,” atau “wahai adinda,” atau wahai bibinda,” atau yang sejenisnya kerap terdengar di telinga saya (yang bertanda kutip terjemahannya saja, sapaan yang asli tentu memakai bahasa Bima)

Kasus Keempat

Ngobrol asyik pun kerap terjadi antara orang yang sama sekali tidak dikenal. Seseorang dengan tiba-tiba bisa nimbrung dalam sebuah pembicaraan untuk memberikan pandangannya. Ini terjadi di kendaraan-kendaraan umum, toko-toko, atau pasar, sawah, atau tempat lainnya. Keramahan yang indah.

Bahkan suatu ketika ketika saya kemalaman dalam perjalanan menuju Bima, beberapa tahun yang lalu, saya diantar dengan selamat oleh seorang pemuda yang tidak saya kenal sama sekali sebelumnya. Ah saya merasa beruntung bisa menjadi orang Bima.

9.29.2007

Anger and my Romadhon

Okay, time to write… (again!)

This fasting month is really special for me. It becomes special not because significant changing on praying, though even decrement that I feel. How sad… :(

The reason why this romadhon is so special is the time for me to reflect myself. I have been tested through my passion since so many thing I feel so wrong. And even worse, those come from my environment, my friend. I have been mad. Not to them, but myself. I mad because I cannot do anything to make it right.

Let me tell several stories that amend my mood to the bottom…


  • On a meeting, suddenly, my friend asked the aim of our event since her did know nothing about it. She asked why we just talked about technical not the conception. God, I almost blasted into mad. I think her questions didn’t make sense. It’s natural she didn’t know after she had not even got involve with us several time before. She among us, but what she did just playing around, talked around, or laughing around. She didn’t ask, even. Thank God, people there patient enough to explain her.

  • Several friends in our discussion kept shouting dirty jokes, ghibah, and laughing at people. I don’t understand, how come this habit even worse in this time. Time that we should be doing something best (it’s romadhon, right?). And I exploded; I got mad and told to them. I hope they can accept my words and change.

  • One of my friends broke his promise. Bad, he didn’t ask apologize and even make excuses.

Ah, how hard this romadhon. But several experiences I had just enrich me about life. I can reflect myself from someone else’s attitude.
You cannot give something if you don’t have it.
When you get mad at someone, it may tell you are just alike him.

9.15.2007

SIAWARE 12

For the feeling called love, I was there for you
For the lust of lessons, I’d decided to take part

And…,
I’ve seen incredible extraordinary people

You all burnt my spirit to give
Better than my best
Since I saw
Bright reflection within myself
By your verbal, whim, and expression

Though we’d just met
Though for a flash flicker
I felt knowing you for eons

You’ve been coming
To complete my journey of being
For that whole things
Thank you…

,iiii

[Dedicated to 97 members and facilitators team of SIAWARE 12]

9.13.2007

Gurindam Duabelas

This, I write down the old Melayu literature named Gurindam Duabelas. I saw the original verse while I was going to Kepri islands.


INILAH GURINDAM DUA BELAS
Karya Raja Ali Haji

Persimpangan yang indah-indah
Yaitulah ilmu yang membei faedah

Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur


GURINDAM FASAL YANG PERTAMA

Barangsiapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barangsiapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang yang ma'rifat

Barangsiapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barangsiapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan Yang Bahri

Barangsiapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barangsiapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat


GURINDAM FASAL YANG KEDUA

Barangsiapa yang mengenal tersebut
Tahulah ia makna takut

Barangsiapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasya

Barangsiapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barangsiapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji


GURINDAM FASAL YANG KETIGA

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jatuh tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fiil yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilangsemangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan membawa rugi


GURINDAM FASAL YANG KEEMPAT

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikit pun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barangsiapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membaut kasar

Barangsiapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di mana tahu salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan ta'bur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih


GURINDAM FASAL YANG KELIMA

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihat kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai


GURINDAM FASAL YANG KEENAM

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi


GURINDAM FASAL YANG KETUJUH

Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda mimpikan duka

Apabila kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kubang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabial pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat honar


GURINDAM FASAL YANG KEDELAPAN

Barangsiapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya khabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka


GURINDAM FASAL YANG KESEMBILAN

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba raja-raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi seteru


GURINDAM FASAL YANG KESEPULUH

Dengan bapa jangan durhaka
Supaya Allah tiada murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan isteri janganlah alpa
Supaya malu janagn menerpa

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil


GURINDAM FASAL YANG KESEBELAS

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujah

Hendak dimalui
Jangan melalui

Hendak ramai
Murahkan perangai


GURINDAM FASAL YANG KEDUABELAS

Raja muafakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tand raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

9.12.2007

Fasilitator Batam (Facilitator in Batam)

For this, still, I prefer to write in Bahasa Indonesia.

Pengalaman menjadi fasilitator di Batam adalah sebuah anugerah. Saya menghadapi sebuah momen di mana saya mesti mengendalikan diri sendiri. Mengendalikan diri? Tentu saja dan ini sungguh luar biasa karena melibatkan emosi manusia nyaris empat ratus orang. Dan untuk kesekiankalinya saya belajar tentang hidup.

Saya seolah-olah bercermin dengan segala hal yang ditampilkan peserta. Totalitas sekaligus penolakan merupakan sesuatu yang saya lihat dari wajah-wajah peserta, dan sungguh fase-fase itu juga pernah saya alami. Menjadi kontributor sekaligus pembangkang merupakan warna yang saya lihat dalam ruangan training, dan sungguh itu juga adalah bagian dari lembaran hidup saya. Dalam rupa ragam tingkah yang ditampilakan, saya senatiasa belajar tentang diri saya sendiri.

Terkadang saya merasa lucu dan juga malu. Bahwasanya saya telah menjalani training serupa dua tahun yang lalu. Pun beberapa kali saya telah menjadi fasilitator. Banyak yang berubah, namun sungguh masih lebih banyak yang harus dibenahi dalam diri. Saya sungguh bersyukur bahwa sahabat-sahabat baru yang saya temui di Poltek Batam ini telah mengajarkan saya untuk memenuhi kontrak saya. Mereka bukan sekedar sahabat. Mereka guru. Terimakasih.

Today's Inspiration (0709)

ATTEMPT From Baltasar Gracián y Morales

Attempt easy tasks as if they were difficult, and difficult as if they were easy; in the one case that confidence may not fall asleep, in the other that it may not be dismayed.

About Baltasar Gracián y Morales
Baltasar Gracián y Morales, the Jesuit scholar and moralist author, was the leading Spanish proponent of conceptism (conceptismo), a method of expressing ideas through puns, epigrams, and other verbal devices. He was born in 1601 in Aragon. The Jesuit leadership frowned on his oratorical style, which included reading a letter from Hell to his congregation. His best known books include The Art of Worldly Wisdom and The Hero, which repudiated Machiavelli. He died in 1658.

8.21.2007

Friday's Lesson

Last Friday I did shalat Jumát at Wyata Guna (a base for blind). There was something interesting on sermon (khutbah) that was given there. Generally, khatib meant that everything happen in the world always have points, no matter how terrible they are in human paradigm. Blindness is not deformity. If you said it is, so you judge God’s careless. Then for normal people, there’s nothing to be conceited, since everything can be yang out immediately by His sanction. All you have to do is have some faith to find every hikmah of everything and be grateful.

Took a pray with the blinds was a great experience. I saw how they were so engrossed in pray. Within darkness covers their world I could see how sincere they are with their condition, and even they looked happy. I acknowledged them.

Show us the straight way,
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray. [Al-Fathiha: 6-7]

8.14.2007

Today's Inspiration (0708)


COME AND GO from Sara Teasdale


I make the most of all that comes and the least of all that goes.

About Sara Teasdale
Sara Teasdale was an American poet in the lyrical tradition, publishing several books of poetry including the award-winning Love Song. Her book of collected poems was first published in 1937 and remains in print. She was born in 1884 in St. Louis and moved to New York in 1915 with her new husband, Ernst Filsinger, whom she later divorced. The poet Vachel Lindsay courted her with passionate letters; they later settled into a close lifelong friendship. She died in 1933.

7.25.2007

Ghibah...

I ask to those who love gossiping (ghibah) other. Why?
Mostly, I don’t see points on talk someone’s quality. People do that just for fulfilling self satisfaction even worse: laugh at someone who becomes object of gossiping.
For me, talk about some can be accepted for reflection or learn about life or protection. Moreover, we must choose person whom we ask to talk as the purpose of talking is for goodness. He or she must be fair and wise on his or her opinion. Still, it is difficult to stand on that condition. More often than not, people are slipped on rough way. So, better avoid it.

[I am still sad for my friends who mocked on their friends and lecturers (why?). I don’t know them who were talked about as I from different major. Miserable….]

7.11.2007

Today's Inspiration (0707)


LIFE from Raymond Charles Barker


Your life becomes the thing you have decided it shall be.

About Raymond Charles Barker
Raymond Charles Barker was an influential American minister and author in the mid-twentieth century. He wrote such books as The Power of Decision and Treat Yourself to Life, on ways to change subconscious patterns. He became president of the International New Thought Alliance in 1943, a group practicing the religious philosophy developed in the late 1800's by Phineas Quimby, with early proponents including Ralph Waldo Emerson. Unity Church and Divine Science are among its later offshoots.

7.04.2007

Simplex Veri Sigillum, Just Away

Simplex veri sigillum: simplicity is the mark of wisdom. Unfortunately, it was forgotten by the stream of period. Those words are deemed as a rotten proverb.

Things you heard now should be copious words that entrap you into turbulence of misunderstanding. Further you can blow up somebody else by your words into confuse then you are conferred as an intelligent. Don’t know why?

7.03.2007

Cita-cita Anak Negeri (Youngster's Dreams)

For this post, I am going to write in Bahasa Indonesia. This is a post that very deeply illustrates my sadness and I think I can get the sense by writing it in my language.

Apa yang terbetik dalam benak ketika seorang anak kecil ditanya dengan pertanyaan tentang cita-citanya. Mungkin kita akan berpikir bahwa betapa antusiasnya atau mungkin dengan malu-malu menjawab menjadi dokter, insinyur, dan sebagainya. Boleh percaya boleh tidak, itu jawaban-jawaban yang keluar dari anak-anak sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu dan mungkin terlontar dari bibir anda. Saat ini mungkin kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Bukan sekedar berbeda tetapi benar-benar berbeda.

Suatu ketika saya membaca bahwa anak-anak sekarang lebih tertarik menjadi artis, entah itu sebagai penyanyi atau bintang sinetron. Ketika mendengar hal itu terus terang saya merasa kecewa dan entah mengapa sakit hati. Apakah sedemikian terpaparnya bangsa ini dengan gaya hidup dan informasi yang sampai saat ini, menurut saya, lebih banyak kejelekannya daripada kebaikannya. Ketika ditanya alas an ingin menjadi artis, mungkin dengan lugas menjawab anak-anak itu menjawaab, “biar bisa dapat uang banyak terus bisa beli macam-macam.” Atau mungkin, “biar bisa terkenal.” Sungguh jawaban-jawaban mengecewakan. Sangat jarang terdengar, “aku mau jadi dokter karena bisa membantu menyembuhkan orang sakit.” Atau, “aku mau bangun gedung bertingkat paling keren supaya ayah, ibu, kakak, adik dan teman-teman bisa tinggal di situ.” Rindu mendengar jawaban-jawaban polos namun mendalam semacam itu.

Tetapi yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini bukan soal cita-cita anak-anak yang demikian terpapar arus informasi. Saya hendak bercerita profil anak-anak bangsa yang sama menyedihkannya. Kepolosan mereka pun ternoda oleh lingkungan mereka. Mungkin terlihat berbeda dengan kisah anak-anak yang saya sampaikan di atas namun hakikatnya adalah sama.

Di bilangan Jakarta Utara...
“Kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” Pertanyaan tersebut terlontar pada seorang bocah kecil. Terus terang aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk suatu jawaban yang terkamit dari bibirnya.
“Preman.”
”Kok mau jadi preman?” Pertanyaan ini penting. Latar belakang semua ini mungkin akan terjawab dengan pertanyaan yang satu ini.
“Bapak preman. Dari situ dia dapat uang.”
Dan perasaan beku menjalar…

Di daerah pinggiran Bandung...
“Dik, kamu mau jadi apa kalau sudah gede?” Ini adalah pertanyaan buat seorang gadis kecil yang tampak demikian bersahaja.
“Pelacur,” jawabnya polos. Ini benar-benar aneh dan di luar kebiasaan. Bagaimana seorang anak yang demikian lugu punya pemikiran seperti itu.
“Kenapa?”
“Ibu juga seperti itu. Makanya dia bisa menyekolahkan saya,” pungkasnya.


Dua cerita itu dituturkan seorang sahabat yang sedang mengumpulkan data untuk kegiatan community service-nya. Ketika mendengar cerita itu saya cuma bisa diam dan merasa tidak lagi menjejak di orbit bumi. Ini benar-benar keterlaluan. Dan saat ini pula, perasaan itu masih buncah dalam dada. Bangsa ini bercita-cita menjadi sesuatu yang tidak bermoral. Ah… sedih sekali menuliskan kalimat sebelum kalimat ini. Tetapi bukankah ini yang mungkin terjadi, masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.

Anak-anak telah ternoda kemurniannya. Profesi-profesi yang mereka pilih karena berorientasi materi. Dan ironisnya anak-anak di semua lapisan sosial menunjukkan kecenderungan serupa. Mungkin inilah yang terjadi ketika sistem memaksa kita untuk bergantung pada yang namanya materi, atau lebih khusus lagi uang. Pendidikan, kesehatan, hiburan, atau apapun butuh uang. Apa yang saya sampaikan bukan berarti menafikan pentingnya uang, namun yang terjadi sekarang adalah hampir segala hal diukur dengannya. Mungkin orang tua-orang tua di Indonesia lebih banyak yang berkata, "Nak, kalau sudah besar carilah banyak uang agar hidup kamu terjamin." Semakin sayup terdengar doa orang tua, "Jadilah kamu anak yang shalih, jujur, dan berguna buat sesama dan negeri ini."

Pertanyaan selanjutnya akan lebih berat. Siapa yang bertanggungjawab atas hal ini? Yang saya maksudkan bertanggungjawab bukanlah mencari siapa yang salah, melainkan siapa yang mampu berbuat sesuatu mengentaskan kenistaan masa depan bangsa ini. Pertanyaan sulit, bukan? Mungkin tidak akan ada yang mau mengambil peran di sini. Tidak menguntungkan, itu mungkin alasan yang akan keluar.

Saya kini berpikir dan masih terus berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?” Saya merasa sangat berdosa ketika tidak mampu bertindak. Apa? Apa? Bagaimana? Bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan itu masih belum terjawab sampai sekarang. Ah betapa memalukan…. Akan tetapi satu hal yang saya berjanji dengan sepenuh hati, anak-anak saya nanti akan saya didik sebaik mungkin sehingga ketika dia ditanya tentang cita-citanya yang tertutur adalah sesuatu yang mulia dan membanggakan buat rakyat negeri ini, bahkan buat semesta.

*Picture captured from http://www.idp-europe.org/indonesia/

6.18.2007

What's better than.....

[By Butch Jimenez]

As college students, you're just about to set sail into the real world. As you prepare for the battleground of life, you'll hear many speeches, read tons of books and get miles of advise telling you to work hard, dream big, go out and do something for yourself, and have a vision.

Not bad advise, really. In fact, following these nuggets of truth may just bring you to the top. But as I've lived my life over the years, I have come to realise that it is great to dream big, have a vision, make a name, and work hard. But guess what: There's something better than that...

So my message today simply asks the question, what's better than...?

What's better than being negative?

Let's start off with something really simple. What's better than a long speech? No doubt, a short one. So, you guys are in luck because I intend to keep this short.

Now, let me take you through a very simple math exam. I'll rattle off a couple of equations, and you tell me what you observe about them. Be mindful of the instruction. You are to tell me what you observe about the equations.

Here it goes : 3+4=7, 9+2=11, 8+4=13 and 6+6=12. Tell me, what do you observe ?

Every time I conduct the test, more than 90 percent of the participants immediately say, 8+4 is NOT 13, it's 12. That's true and they are correct. But they could have also observed that the three other equations were right. That 3+4 is 7, that 9+2 is 11, and that 6+6 is 12.

What's my point ? Many people immediately focus on the negative instead of the positive. Most of us focus on what's wrong with other people more than what's right about them. Examine those four equations. Three were right an only one was wrong. But what is the knee-jerk observation? The wrong equation.

If 10 people you didn't know were to walk through that door, most of you would describe those people by what's negative about them. He's fat. He's balding. Oh, the short one. Oh, the skinny girl. etc.

Get the point ? It's always he negative we focus on and not the positive. You'll definitely experience this in the Corporate World. You do a hundred good things and one mistake-guess what? Chances are, your attention will be called on that one mistake....

So what's better than focusing on the negative ?

Believe me, it focusing on the positive. And if this world could learn to focus on the positive more than the negative, it would be a much nicer place to live in.

What's better than working hard ?

We have always been told to work hard. Our parents say that, our teachers say that, and our principal says that. But there's something better than merely working hard. It's working SMART.

It's taking time to understand the situation, and coming out with an effective and efficient solution to get more done with less time and effort. As the Japanese say, "There's always a better way."

One of the most memorable case studies I came across with as I studied Japanese management at Sophia University in Tokyo was the case of the empty soap box, which happened in one of Japan's biggest cosmetic companies. The company received a complaint that a customer had bought a box of soap that was empty. It immediately isolated the problem to the assembly line, which transported all the packaged boxes of soap to the delivery department. For some reason, one soap box went through the assembly line empty.

Management tasked its engineers to solve the problem. Post-haste, the engineers worked hard to devise an X-ray machine with high-resolution monitors manned by two to ensure they were not empty. No doubt, they worked hard and they worked fast. But a rank-and-file employee that was posed the same problem came out with another solution. He bought a strong industrial electrical fan and pointed it at the assembly line. He switched the fan on, an as each soap box passed the fan, it simply blew the empty boxes out of the line. Clearly, the engineers worked hard, but the rank-and-file employee worked smart. So what's better than merely working hard? It's working smart. Having said that, it is still important to work hard. If you could combine both working hard an working smart, you would possess a major factor toward success.

What's better than dreaming big?

I will bet my next month's salary that many have encouraged you to dream big. Maybe even to reach for the stars and aim high. I sure heard that about a million times right before I graduated from this university. So I did. I did dream big. I did aim high. I did reach for the stars. No doubt, it works. In fact, the saying is true "If you aim for nothing, that's exactly what you'll hit: nothing."

But there's something better than dreaming big. Believe me, I got shocked myself. And I learned it from the biggest dreamer of all time Walt Disney.

When it comes to dreaming big. Walt is the man. No bigger dreams were fulfilled than his. Every leadership book describes him as the ultimate dreamer. In fact, the principle of dreaming and achieving is the core message of the Disney hit son, "When You Wish Upon a Star". "When you wish upon a star, makes no difference who you are; anything your heart desires will come to you. If your heart is in your dream, no request is too extreme. When you wish upon a star, as dreamers do," as Jiminy Cricket sang.

But is that what he preached in Disney company? Dream? Imagineering...Well, not exactly. Kind of , but not quite. The problem with dreaming is if that's all you do, you'll really get nowhere. In fact, you may just fall asleep and never wake up. The secret to Disney's success is not just dreaming, it's IMAGINEERING.
You won't find this word in a dictionary. It's purely a Disney word. Those who engage in Imagineering are called imaginers. The word combines the words "imagination" and "engineering". In the book " Imaginers," Disney's CEO, Michael Eisner, claims that "imaginers turn impossible dreams into real magic." Walt Disney explained there is really no secret to this approach. They just keep moving forward-opening new doors and doing new things, because they are curious. And it is this curiosity that leads them down new paths. They always dream, explore and experiment. In short, Imagineering is the blending of creative imagination and technical know-how.

Eiser expouns on this thought by saying that "Not only re imaginers curious, they are courageous, outrageous, and this creativity is contagious." The big difference with imaginers is that they dream an then they DO ! So don't just be a dreamer, be an imagineer. What's better than vision ?

You must have all been given a lecture at one time or another about the importance of having a vision. Even leadership expert John Maxwell says that an indispensable quality of a leader is to have a vision. It is also very clear that Without vision, people perish."
So no doubt about it, having a vision is important to success. But surprise! There's something more potent than a vision. It's a CAUSE. If all you're doing is trying to reach your vision an you're pitted against someone fighting for a cause, chances are you'll lose. The Vietnam War is a classic example. Literally with sticks and stones, the Viet Cong beat the heavily armed US Army to surrender, primarily because the US has a vision to win the war, but the Vietnamese were fighting for a cause.

In the realm of business, many leaders have visions of making their company No. 1, or grabbing market share, or forever increasing profits.

Nothing really wrong with that vision, but take the example of Sony founder Akio Morita. He did not just have a vision to build the biggest electronics company in the world. In his biography, " Made in Japan" he reveals that the real reason he set up Sony was to help rebuild his country, which had just been bettered by war. He had a cause he was fighting for. His vision to be an electronics giant was secondary. What's the difference between a vision and a cause? Here's what sets them apart.
* No one is wiling to die for a vision. People will die for a cause.
* You possess a vision. A cause possesses you.
* A vision lies in your hands. A cause lies in your heart.
* A vision involves sacrifice. A cause involves the ultimate sacrifice.

Just a word of caution. You must have the right vision, and you must be fighting for the right cause. In the end, right will always win out.

It may take time, and it may take long. But if you have the right vision and are fighting for the right cause, you will prevail. If not, no matter how sincere you are, if you are not fighting for what is right, you will ultimately fail.

It is said : "To whom much is given, much is required."

Having been given the opportunity to study in UP, no doubt, much has been given to you in terms of an excellent education. Don't forget that in return, much is now required of you to use that education not just for yourself, but for others. And as you move up and start reaching the pinnacle of success, even more will be required of you to look at the welfare of others, of society and of the country.

A final review :

What's better than focusing on the negative? Focus on the positive

What's better than working hard? Its working smart

What's better than doing something for yourself? Doing something for your country

What's better than a vision? A cause



[This speech was delivered during the commencement exercises of the University of Philippines graduating class of 2003 by Mr. Butch Jimenez, the youngest commencement speaker in the university's history. He once dreamed of doing so, and it came true!!! Students wished they had a pencil or paper to jot down notes during the speech; some even wished they have a tape recorder. Some members of the faculty found his speech practical, refreshing and funny.

Butch Jimenez, head of PLDT's media and strategic communications department, delivered this speech at the UP Diliman Class 2003 commencement exercises.]

6.17.2007

The Sun Poem

[by Bruce Petterson]

The sun in the morning.
Like a protective mother
she rises and brings warmth to everything she touches.
Artists try to harness her beauty,
scientists study to find her secrets.
Every being feels more alive when she is there
sad when she is shrouded by a cloud.
She leaves each day with a promise to return
that is never broken.


Just want to say that the poem is so touchy.

Mentari

Mentari I

Mentari menyala di sini
di sini, di dalam hatiku
gemuruhnya sampai di sini
di sini, di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
berlapis pagar duri sekitarku
tak satupun yang mampu menghalangiku
menyala di dalam hatiku

Hari ini hari ini hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala
di sini di dalam hatiku



Mentari II

Kulihat di sana
sinarmu merekah

Berikanlah cahayamu
bagi negeriku

Dengarlah suara
seruan rakyatmu
tertindas terbelenggu
menanti tanganmu

Berikanlah cahayamu
bagi negeriku


Those are songs I learnt from OSKM 2001 when I enrolled this institution. I cannot explain why I love these song a lot. I guess the lyrics touch my heart. A spirit to keep fight is clearly described at Mentari I. There is no obstacles should stop our step forward. Spirit flows through my veins. I am the sun itself.

Mentari II is my favorite. It has deep meaning and every time I sing it as if I promise to myself to do something with this country. This song always remind me how trapped we are within the calamities. Moreover, I keep thinking how to give something for people since I feel I was born to do something special: for human being, this country, even universe. I am the sun for universe.

Two songs that inspire me much and it keep me to think about future of universe I want to shape. And the question now is “how”.

Tuhan Sembilan Senti

[by Taufiq Ismail]

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.



I do like this poem because it keenly asks the point of smoking rhetorically. Taufiq Ismail is able to insert his point that every space, activity, and profession might be contaminated by this dangerous activity. He used simple diction but deep enough to compel thinking clearly about how this activity originally a sin.

Actually, as far as I know, smoking has been settled as sin activity by the ulamas. Dangerous for healthy, extravagant, hell-meal-like, and disturb other are several reason for this law. When settled this law, they refer to Al-Qurán and Sunnah. Moreover, by comparing with other stuff, clearly that cigar and cigarette are dangerous. Unfortunately, most of people keep stand for law that smoking just makruh whereas there is no strong explanation for it. Tragic….